skip to main |
skip to sidebar
Kemudian
matilah ia pada waktu telah putih rambutnya, lanjut umurnya, penuh
kekayaan dan kemuliaan , kemudian naiklah rajalah Salomo, anaknya,
menggantikan dia [1 Tawarikh 29:28]
Sebuah kisah tentu ada
akhirnya. Ada yang berakhir dengan bahagia, tetapi banyak juga yang
berakhir sedih, bahkan tragis. Kalau kita diminta untuk memilih, tentu
kita akan memilih kisah yang berakhir
bahagia, apalagi kalau itu kisah hidup kita sendiri. Bahkan ada gurauan
bahwa kalau bisa kita mengalami masa kecil yang indah, masa muda yang
nikmat dan bahagia, lalu di masa tua tinggal manikmati kekayaan dan
menunggu masuk surga. tentu ini realistis.
Hidup Daud dapat
dikatakan sukses. Ia sukses menjadi raja dan kaya raya dan penuh
kemuliaan. Anaknya, Salomo - raja yang akan terkenal karena hikmatnya -
akan menggantikannya sebagai raja. Daud, raja sekaligus prajurit sejati,
wafat saat usianya sudah tua dan meninggalkan banyak kesan: Karyanya,
hikmatnya, kesalehannya, doa-doanya. memang ada raja Israel lain yang
lebih makmur dan lebih lama memerintah daripada Daud, tetapi tak ada
raja yang lebih saleh darinya. Hingga ia bahkan dihubungkan dengan
mesias yang dijanjikan. Ya, Yesus bahkan juga disebut sebagai Anak Daud.
Ketika kita kelat meninggalkan dunia ini, apakah yang kita inginkan
agar di ingat orang-orang mengenai kita? Keberhasilan atau kegagalan
kita? Apakah perjalanan hidup dan iman yang telah kita perjuangkan bisa
menjadi teladan bagi orang-orang yang kita tinggalkan? kiranya bukan
sekadar akhir bahagia yang kita inginkan terjadi di hidup kita,
melainkan hidup yang telah selesai melaksanakan rancangan Allah bagi
kita. Bahwa melalui hidup kita, banyak orang dapat merasakan kasih
Tuhan. Melalui hidup kita, nama kristus dimuliakan.
HIDUP YANG SUKSES BUKAN SEKADAR MEMENUHI CITA-CITA PRIBADI MELAINKAN JUGA MEMENUHI CITA-CITA TUHAN MENCIPTAKAN KITA.
Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera [Roma 15:3]
Pada 5 Agustus 2010, tambang emas dan tembaga di Copiapo, Cile, runtuh.
Sebanyak 33 penambang terperangkap. Regu penyelamat yang mencari
mereka, nyaris putus asa. Namun, 17 hari kemudian, diketahui bahwa
mereka masih hidup walau terperangkap di dalam tambang sedalam 700
meter. Dan, mereka harus sabar menanti hingga 7 minggu, sebelum mesin bor berhasil menembus lubang tempat mereka berlindung.
Ya, manusia bisa bertahan hidup selama 40 hari tanpa makan, 4 hari
tanpa minum, 4 menit tanpa bernafas. Namun, manusia tak mampu hidup
bahkan selama 4 detik saja, jika ia tak punya semangat dan harapan. Itu
sebabnya di tengah himpitan dan tahap awal aniaya terhadap jemaat Roma,
Paulus menasihati agar setiap orang percaya bergantung kepada Allah -
sumber pengharapan, sukacita, damai sejahtera. Di tengah tekanan
sekalipun, Dia sanggup memberi kekuatan dan pengharapan. Maka, yang kuat
dapat menolong yang lemah dan lelah. Dengan kerukunan yang demikian,
orang-orang beriman itu memuliakan Allah.
Ketika dunia
menganggap 33 penambang Cile itu pahlawan, dengan keras Henriques -
salah satu dari mereka - menolaknya. katanya, "Kita bukan pahlawan, dan
jika ada pahlawan, itu adalah semangat yang diberikan Tuhan, yang
membuat kami bertahan". Ternyata, semasa di dalam tambang ia membacakan
sejumlah ayat Alkitab kepada teman-temannya, untuk menjaga semangat
mereka.
Mari jalani hidup ini dengan penuh semangat. Apalagi
untuk melakukan tugas sebagai saksi Kristus: memberkati dan menolong
banyak orang di sekitar kita yang hidup dalam keputusasaan.
HIDUP DIBERI AGAR DIJALANI DENGAN PENUH ARTI MAKA TUHAN MENYALAKAN SEMANGAT AGAR KITA MENJADI BERKAT.
Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah! [Mazmur 46:11]
Henry Weiss - yang telah mengubah namanya menjadi Houdini, adalah ahli
meloloskan diri dari berbagai perangkap: tali, pintu sel, borgol, dan
sebagainya. Namun, suatu kali saat berada di penjara kecil bernama
British Isles, ia kesulitan mengutak-ngatik kunci sel tersebut.
Biasanya, dalam tiga puluh detik ia dapat membuka kunci
sel, tetapi kali ini tidak. Ia pun lelah, frustrasi, dan putus asa.
Maka, ia tak lagi berbuat apa-apa. Ia berdiam, lalu menyandarkan diri ke
pintu. Anehnya, pintu itu segera terbuka sebab ternyata tidak terkunci!
Ketika berdiam diri, ia justru menemukan penyelesaian masalahnya.
Ini mungkin peristiwa langkah. Namun, ia mengingatkan kita bahwa dalam
hidup yang penuh masalah ini, kita perlu punya waktu-waktu khusus untuk
berdiam diri - khususnya di kaki Tuhan. Berdiam diri membuat pikiran
kita tenang, emosi kita terkendali, dan kita mendapat hikmat Tuhan untuk
mengatasi masalah. Sayangnya, kerap kali kita tidak berdiam diri di
kaki Tuhan saat masalah datang. kita malah memikirkan sendiri masalah
yang sedang kita hadapi, dan sibuk mencari cara untuk mengatasinya.
Hasilnya, kita frustrasi dan putus asa.
Jadi, mengapa kita
tidak mencoba menyerahkan semuanya kepada Tuhan? Ketika melakukannya,
Pemazmur mengalami bagaimana Tuhan bertindak. Dan, ia bersaksi bahwa
Allah itu "tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam
kesesakan sangat terbukti". Jalan keluar serta jawabannya barangkali di
luar dugaan kita, bahkan sangat berbeda dengan cara-cara yang sudah kita
bayangkan. Jika Dia terbukti dapat selalu menolong, mengapa kita
menunda untuk duduk diam di kaki-Nya?
TUHAN TAK PERNAH KEKURANGAN CARA UNTUK MENOLONG KITA JADI MENGAPA KITA TIDAK MENGANDALKAN DIA?
Perkataan
ini benar dan patut diterima sepenuhnya, "Kristus Yesus datang kedunia
untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang
paling berdosa [1 Timotius 1:15]
Mila sangat terpukul ketika
mengetahui bahwa dirinya ternyata adalah anak angkat dari orang tua yang
mengasuhnya selama ini. Namun sejak itu, Mila lebih rajin membantu
menjaga toko kedua orangtuanya. Apalagi
ketika Mila menikah dan memiliki anak. Ia makin menyadari betapa
besarnya kasih orangtua angkatnya. Mereka telah membesarkannya dengan
susah payah, dengan kasih yang sesungguhnya tidak layak ia terima.
Demikianlah Mila makin lama makin mengasihi kedua orangtua angkatnya.
Kitab 1 Timotius ditulis oleh Paulus pada akhir hidupnya. Sejak
pertobatannya, Paulus telah melakukan begitu banyak pelayanan -
mendirikan jemaat di berbagai daerah. Paulus telah menempuh begitu
banyak bahaya dan penderitaan karena injil. Dari semua pengalaman itu,
Paulus mengatakan bahwa kerinduan terbesarnya adalah makin mengenal
Tuhan yang ia layani. Maka, di akhir hidupnya Paulus tidak menjadi
sombong, tetapi malah makin menyadari anugerah Tuhan yang begitu besar
kepadanya. Bahkan, Paulus mengatakan, bahwa ialah orang yang paling
berdosa. Mengapa? Karena makin orang mengenal Kristus, ia makin mengenal
siapa dirinya, makin mengerti besarnya anugerah yang ia terima, dan
makin memberi diri untuk kemuliaan Tuhan.
ketika kita makin
mendalami firman Tuhan, adakah kita makin mengenal siapa Allah yang kita
sembah dan siapa kita sesungguhnya? Atau, jangan-jangan semua itu hanya
menjadi pengetahuan yang mengisi otak, yang justru membuat kita tinggi
hati? Bagaiamanakah mengenal akan Tuhan ini mempengaruhi sikap hati kita
ketika melayani Tuhan?
PENGENALAN AKAN TUHAN MEMAMPUKAN KITA BERCERMIN DIRI DAN MENYADARI BESARNYA ANUGERAH TUHAN YANG DIBERI.

....janda ini memberi dari kekurangannya,bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya [Lukas 21:4]
Ada bermacam suara hati bisa mncul takkala kita memberi persembahan.
"Sudah pantaskah apa yang saya persembahkan ini?" Atau, "Sudah benarkah
motivasi saya dalam memberi?" Atau, "Apakah komentar Tuhan atas
persembahan saya?" Atau, "Kiranya Tuhan mengampuni saya atas persembahan
sejumlah ini."
Ketika Yesus
melihat orang-orang memberi persembahan, Dia berkata: Janda miskin ini
memberi lebih banyak daripada semua orang [kaya] itu. Sebab mereka semua
memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi
dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya". Ternyata
yang dinilai banyak, bukanlah jumlahnya. perhatikan bahwa dua uang
tembaga di janda adalah miliknya. Jadi, si janda memberi lebih banyak.
uang tembaga adalah mata uang terkecil; dan si janda adalah orang tak
berpunya. walau sedikit, jumlah itu besar bagi si "kosong".
Sudut pandang Yesus terhadap persembahan kita sudah pasti bukan soal
besarnya jumlah, melainkan besarnya kasih yang memampukan kita untuk mau
memberi sampai "merasa sakit". Saat kita berani memberi dengan rela
sejumlah persembahan yang ketika diberikan terasa "sakit" - sebab itu
bagian dari penghidupan kita - maka kita tak perlu ragu. Pemberian yang
demikian sangat dihargai Tuhan. seperti Ibu Teresa pernah menulis: "Satu
hal yang saya pinta dari Anda, jangan pernah takut untuk memberi.
Namun, jangan memberi dari kelebihan Anda. Berikanlah saat hal itu sukar
bagi Anda".
TUHAN, AJAR SAYA UNTUK TIDAK SEMBARANGAN MEMBERI TETAPI MEMBERI DENGAN SUNGGUH DARI KASIH SEJATI DI HATI.
enam
hari lamanyaTUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang
ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat [Keluaran 31:17]
Ada banyak cara orang beristirahat. Ada yang menikmatinya dengan
berolahraga atau berjalan-jalan bersama sahabat. Ada yang berekreasi
dengan bermain video game atau menikmati makanan enak. Ada juga yang
menikmatinya dengan tidur atau sekadar bermalas-malasan di rumah. Saya sendiri menikmati istirahat dengan pergi ke tempat wisata alam.
Apa pun caranya, istirahat adalah bagian yang tak terpisahkan dari
hidup kita. Namun, ada sebagian orang yang melihat istirahat sebagai
suatu yang tidak produktif. Memang pada zaman ini, semua orang dituntut
untuk bersaing dan berusaha menjadi yang paling unggul. Seorang pegawai
bekerja lembur setiap hari supaya tidak dicap sebagai pegawai yang kalah
rajin dibandingkan yang lain. Seorang anak dipaksa memenuhi waktu
kosongnya dengan berbagai macam kursus, supaya ia lebih unggul daripada
anak-anak yang lain.
Akan tetapi, mari kita mengingatkan
bagaimana secara khusus Tuhan menciptakan hari Sabat. Apabila mengikuti
pola-Nya ketika menciptakan dunia, sesungguhnya Tuhan sedang mengajar
kita untuk bekerja selama enam hari, kemudian beristirahat di hari yang
ketujuh. Melaluinya, Tuhan hendak menunjukkan bahwa istirahat bukanlah
sesuatu yang tidak produktif. Sebaliknya, inilah kunci keseimbangan
hidup - istirahat justru sangat penting untuk menyegarkan kita secara
fisik dan rohani.
Maka, ketika kita lelah, jangan ragu untuk
beristirahat. Secara teratur, selalu sediakan waktu untuk beristirahat.
Setelah istirahat itu dijalani, kita akan dikuatkan dan disegarkan untuk
kembali melanjukkan tugas dengan lebih baik.
BERISTIRAHATLAH SETELAH BERKARYA AGAR KITA PUNYA KEKUATAN UNTUK MENGERJAKAN KARYA BERIKUTNYA.
Maka bersiaplah Yonatan, anak Saul, lalu pergi kepada Daud di koresa.
Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah [1 Samuel 23:16]
Saya [David] punya sebelas sahabat kecil dari Lembah Baliem, Wamena, di
pegunungan Tengah Papua. Awalnya, seorang guru di sana meminta saya dan
beberapa teman menjadi sahabat pena murid-muridnya. Persahabatan lewat
surat ini dimaksudkan untuk menolong anak-anak agar suka menulis dan
melatih mereka mengekspresikan pikirannya. Mereka bercerita tentang alam
Wamena yang indah, guru, teman-teman, keluarga, pelajaran yang tidak
disukai, juga cita-cita mereka. Hal yang paling membahagiakan buat saya
adalah setiap surat selalu ada tiga kalimat wajib; yaitu "I Love
You,kak", "Saya akan selalu mendoakan kakak", dan "Tuhan memberkati
kakak".
Persahabatan ini tidak hanya berarti bagi sebelas
sahabat kecil saya, tetapi juga buat saya. Kasih mereka yang polos dan
doa-doa mereka membuat saya mengucap syukur kepada Allah. ini
mengingatkan saya pada persahabatan Daud dan Yonatan. Yonatan mengasihi
Daud seperti mengasihi dirinya sendiri. Saat Saul, ayahnya, berencana
buruk kepada Daud, Yonatan tetap berbuat baik. Di Koresa, Daud dalam
keadaan was-was karena nyawanya terancam. Akan tetapi Yonatan menemani
Daud, menunjukkan kepada Daud bahwa Tuhan selalu menyertai , dan yang
terpenting, menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah.
Saya tak
meminta sahabat-sahabat saya mendoakan saya, tetapi mereka melakukannya
dengan dengan tulus. Dan, saya merasa kasih Allah yang luar biasa. Daud
juga pasti mengucap syukur kepada Allah atas penguatan Yonatan, atas
sahabat seperti dia. Anda pun dapat bersyukur atas kehadiran sahabat
Anda, yang dalam susah maupun senang, menguatkan kepercayaan Anda kepada
Allah.
SAHABAT SEJATI TIDAK MEMAKSA ANDA MEMPERCAYAINYA TETAPI IA MEMASTIKAN ANDA MEMPERCAYAI ALLAH.