Pada pasal-pasal dahulu, Ayub tidak pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah berbuat dosa, tetapi dia mengatakan bahwa semua penderitaan yang dia alami dalam hidup, bukan disebabkan karena dosa. Lalu di pasal ini, salah seorang temannya Bildad, merespons bukan dengan kenyataan, tetapi dengan pertanyaan. Pertanyaan sahabat-sahabat Ayub tidak mampu lagi memojokkan Ayub dengan berbagai teori mereka. Dalam rangkaian kalimat yang indah, Bildad menggambarkan kebesaran Allah (ay. 2, 3 dan 5) dibanding dengan keterbatasan manusia (ay. 4 dan 6). Maka di hadapan Allah, manusia yang tidak berarti itu tidak dapat membenarkan diri sendiri. Menurutnya, kehidupan moral manusia di hadapan Allah seperti ulat, tidak ada nilainya.
Memang benar, bahwa kita adalah manusia yang berdosa dan hina di hadapan Allah; dan Ayub mengetahuinya. Namun bagi Ayub, perkatan Bildad tidak menjawab persoalannya, sebab Ayub merasa tidak melakukan suatu kecurangan di hadapan Allah (bdk. ps. 27:1-5). Dalam kasus Ayub, perkataan ini tidak kontekstual. Namun perkataan Bildad mengingatkan kita, bahwa manusia itu berdosa dan sepatutnya menerima murka Tuhan. Kita tidak dapat menyelamatkan diri dari murka-Nya. Tetapi kasih karunia Allah mampu melampaui semuanya itu. Justru karena Allah maha besar dan manusia telah berdosa, maka Allah memberikan perhatian yang tanpa batas kepada manusia.
Alkitab menegaskan, jikalau manusia masih tinggal dalam status keberdosaannya, maka kita tidak layak berdiri dihadapan Allah. Namun, karena kasih Allah yang begitu besar kepada manusia, Allah mengirim Anak-Nya menyelamatkan manusia dari dosa dan ketidakberdayaannya. Alangkah berharganya manusia di hadapan Allah, untuknya Dia rela mati bagi kita, Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab jika bukan karena kasih setia-Nya, kita pasti binasa. Marilah kita belajar hidup benar di hadapan-Nya, dan apabila peristiwa buruk menimpa kita, jangan kita mempersalahkan Tuhan, tetapi setialah seperti Ayub, dan ingatlah kasih setia-Nya.
- Bisakah manusia yang terbatas memahami realitas hidup dengan benar? Apakah yang menjadi panduan hidup kita, tatkala kita sedang menghadapi pergumulan?
- Doakanlah jemaat yang sedang bergumulan dalam permasalahan hidupnya, agar tetap setia mengiring Tuhan dan percaya kepada firman-Nya, sehingga mereka tidak meragukan kesetiaan Tuhan.
Tuhan memberkati


