Sebagai orang percaya, kita mungkin pernah mengalami kegagalan atau kesusahan, dan kita bertanya kepada Tuhan, "Apa salahku, Tuhan, sehingga Engkau mengizinkan hal ini terjadi padaku?" Pola pikir bahwa orang yang ditimpa sesusahan adalah orang yang berdosa ini pun menjadi pola berpikir Zofar dan Bildad, sahabat-sahabat Ayub. Zofar mengulangi lagi pemikiran Bildad, yang berpendapat bahwa Tuhan hanya memberkati orang yang benar dan membuat orang yang bersalah menderita. Dengan logika seperti ini, mereka menyimpulkan bahwa karena Ayub menderita, maka berarti Ayub adalah orang berdosa dan jahat.
Sesudah mendengar pemaparan Bildad dan Zafar yang menggunakan logika mereka untuk menilai keadaannya, Ayub kemudian mempersoalkan ketidak-adilan hidup, khususnya kemakmuran, keberhasilan, dan kebahagiaan banyak orang fasik. Kadang-kadang yang "murni hati" justru "kena tulah". sedangkan yang fasik bisa hidup makmur, sebagaimana dipaparkan juga dalam Mazmur 73:1, 14. Teman-teman Ayub melihat hal-hal lahiriah sebagai ukuran iman, dan mengabaikan hati.
Ujian karakter bukanlah terletak pada kesuksesan, melainkan pemikiran seseorang tentang Tuhan. Orang fasik bertanya, "Apakah yang akan saya peroleh ketika saya taat pada Tuhan?" (Ayub. 21:14-15). Namun, sesungguhnya itu adalah pendekatan Iblis. Kita percaya kepada Tuhan bukan karena apa yang akan kita terima, tetapi karena Dia adalah Allah Pencipta yang mengasihi dan menebus kita dan selalu menyertai kita. Pada akhirnya, Allah dengan adil akan memperbaiki segala hal dan memberikan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatan dan kasihnya akan kebenaran (Rm. 2:5-11). Yang fasik tidak akan luput dari hukuman, dan yang benar pasti akan dibenarkan dan diberi pahala (Why. 2:10). Jika orang benar menderita, maka perderitaan itu dapat kita lihat sebagai salah satu unsur yang melekat ketika seseorang mendedikasikan hidupnya untuk mengikuti Yesus, dan pembentukan karakternya. Kiranya iman kita kepada Dia semakin bertumbuh.
- Apa yang Ayub rasakan ketika teman-temannya memberikan pengajaran yang justru menyudutkan dirinya? Apakah Anda pernah melakukan hal ini juga?
- Berdoalah bagi setiap orang Kristen, agar dapat memberikan penghiburan pada konteks masalah dan waktu yang tepat, sehingga nasihat yang mereka berikan menguatkan saudara seiman lainnya.


