Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 06 Desember 2014

Apa Kata Alkitab Tentang Perceraian Dan Menikah Kembali


Pernikahan adalah institusi pertama yang dirikan oleh Tuhan dalam Kitab Kejadian pasal 2. Pernikahan adalah perjanjian suci yang melambangkan hubungan antara Kristus dan pengantin-Nya, atau Tubuh Kristus. Kebanyakan kitab yang iman Kristen mengajarkan bahwa perceraian dilihat hanya sebagai pilihan terakhir setelah segala upaya menuju rekonsiliasi telah gagal. Sebagaimana Alkitab mengajarkan kita untuk masuk kedalam pernikahan dengan hati-hati dan penuh hormat, perceraian pun harus dihindari apapun caranya. Menghormati dan menjunjung tinggi sumpah pernikahan membawa kehormatan dan kemuliaan bagi nama Tuhan.

Sayang, perceraian dan menikah kembali telah menjadi realitas luas dalam Tubuh Kristus hari-hari ini. Banyak orang Kristen yang bertanya tentang perceraian dan menikah kembali. Secara umum, orang Kristen cenderung jatuh ke dalam salah satu dari 4 posisi pada masalah kontroversial ini:

Posisi 1. Tidak Bercerai - Tidak Menikah Kembali

Pernikahan adalah sebuah perjanjian sumpah seumur hidup, karena itu tidak boleh diputuskan dalam keadaan apapun; sedangkan untuk menikah kembali dianggap melanggar perjanjian dan karena itu tidak diperkenankan.

Posisi 2. Bercerai - Tapi Tidak Menikah Lagi

Perceraian, meskipun bukan kehendak Allah, terkadang diambil sebagai satu-satunya alternatif setelah semua usaha yang dilakukan gagal. Mereka yang bercerai harus tetap dalam kondisi tidak menikah untuk kehidupan mereka selanjutnya.

Posisi 3. Bercerai - Tapi Menikah Kembali Hanya Dalam Situasi Tertentu

Perceraian, meskipun bukan keinginan Allah, namun terkadang tak dapat dihindarkan. Jika alasan perceraian dianggal Alkitabiah, mereka yang bercerai dapat menikah kembali, namun hanya bagi orang beriman.

Posisi 4. Bercerai - Menikah Kembali

Perceraian, meskipun bukan keinginan Allah, namun bukan sebuah dosa yang tidak terampuni. Terlepas dari keadaan, semua orang bercerai yang telah tobat, harus diampuni dan diijinkan untuk menikah kembali.

Jumat, 05 Desember 2014

BELAJAR MENGHARGAI ORANG LAIN


”Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.” Kolose 4:1

Belajarlah untuk memberi penghargaan dan pujian untuk setiap jerih lelah bawahan kita! Memberi penghargaan kepada bawahan akan memacu mereka untuk lebih bersemangat mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya. Sebaliknya bila tuan/atasan hanya mencerca, memaki, merendahkan dan menekan bawahannya, hal itu akan menurunkan semangat dan motivasi kerja. Apalagi para tuan/atasan yang notabene adalah seorang percaya (Kristen), haruslah memberi teladan yang baik dan menjadi kesaksian bagi bawahan kita, bukan malah jadi batu sandungan! Tuhan Yesus sendiri yang adalah Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan ”...datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28).

Tuhan menghendaki agar kita saling mengasihi dan saling mendahului dalam memberi hormat (Roma 12:10).

                                      Tuhan Yesus memberkati

"Kasihilah Kedua Orang Tuamu"


Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikan kamu.
Sebagai balasan, kau menangis sepanjang malam.

Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasan kau kabur saat dia memanggilmu.

Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang.
Sebagai balasan kau, kau buang piring beserta makanannya ke lantai.

Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna.
Sebagai balasan, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan.

Saat kau berumur 5 tahun, dia membelimu pakaian yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.

Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah.
Sebagai balasanya, kau berteriak, "nggak mau!!"

Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.
Sebagai balasan, kau melemparkan bola ke jendela tetangga.

Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Sebagai balasan, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.

Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu.
Sebagai balasanya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.

Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun.
Sebagai balasan, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.

Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop.
Sebagai balasanya, kau minta dia duduk di baris lain.

Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk menonton acara TV khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya kau tunggu dia sampai dia keluar rumah.

Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya.
Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.

Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya kempingmu selama sebulan libur.
Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya.

Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau berumur 16 tahun, dia ajarkan kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalam.

Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu saat kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu dengan teman-temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Darimana saja seharian ini ?"
Sebagai balasannya, kau jawab, "Ah, ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!"

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan, "Aku tidak ingin seperti ibu".

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan bisa ke Bali.

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelimu satu set furnitur untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan kepada temanmu betapa jeleknya furnitur itu.

Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh, "Aduh, bagaimana ibu ini, kok bertanya seperti itu ?"

Saat kau berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan nasihat bagaimana merawat bayimu.
Sebagai balasannya, kau katakan kepadanya,, "Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!".

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab, "Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu".

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang, Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum kau lakukan, karena mereka datang menghantam hatimu bagaikan palu godam.

Sebagai pengingat, TUHAN memberkati Anda!
 

HAL BERDOA


Doa dalam status apa kita disebut munafik.
"Dan apabila kamu berdoa, janganlah doa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadah dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya mereka sudah mendapatkan upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah kedalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu meminta kepada-Nya". Matius 6:5-8.

Yesus bertanya sebab apa kamu berdoa? Bagaimana engkau berdoa? Kepada siapa engkau berdoa? Disini pun Yesus menunjukkan bahwa motif terbesar yang mendorong orang berdoa itu, mungkin juga adalah keinginan untuk dipandang saleh orang-orang lain dan untuk dipuji orang.

Berdoa dipandang oleh orang-orang Farisi sebagai suatu perbuatan berpahala. Orang yang banyak berdoa di tempat-tempat umum. ia menyimpan saldo besar pada "Direktur bank yang di surga" (demikian mereka memandang Tuhan), dan saldo itu menentukan, apakah ia akan mendapatkan tempat yang baik di dalam Firdaus. Oleh sebab itu berdoa adalah kebesaran dan kebanggaan mereka. Sehingga penting sekali bagi mereka, apabila tiap-tiap orang dapat menyaksikan dan mencatat, betapa salehnya mereka itu.

Memamerkan doa seperti itu dapat kita lihat dimana saja dalam dunia keagamaan. Bukankah firman Tuhan Yesus menyinggung suatu gejala yang terdapat dimana-mana dan yang merusak kehidupan doa dari dalam? Dan apakah gerangan yang dikatakan Tuhan Yesus tentang doa berkala yang terdapat di lingkungan gereja-geraja, dan tentang menghitung banyaknya doa dengan tasbih, memperbanyakkan doa gilir (litani) dan doa brevir (semacam doa berkala) yang berdengung-dengung, tentang kisaran doa yang merentet-rentet, tentang pikiran bahwa doa itu bagi Allah adalah berpahala?

Terhadap motif mendemostrasikan, motif memamerkan di dalam berdoa itu, Tuhan Yesus memberikan perintah-Nya yang mengharuskan "Masuklah kekamarmu, tutuplah pintu". Maksud Tuhan Yesus ialah "Carilah sebuah tempat, dimana engkau dapat berada tanpa diketahui orang, dimana engkau dapat terhindar dari pandangan dan anggapan orang lain". Berusahalah sedapat mungkin, supaya jangan ada orang yang dapat melihat atau mengetahui bahwa engkau hidup dengan berdoa. Bergaullah dengan Tuhan dengan tersembunyi, artinya hiduplah dengan Tuhan dalam pergaulan yang tetap tidak dapat dilihat oleh orang lain, pergaulan yang hanya tertuju kepada Allah Sang Bapa, yang melihat "yang tersembunyi itu".

Maka apabila perkataan kita, yang tak dapat didengar oleh orang lain itu, kita ucapkan, dikeluarkan perkataan itu dari tempat yang tersembunyi oleh Sang Bapa. Dan kita mengucapkan kata-kata itu seperti kanak-kanak dihadapan Allah. "Dan Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalaskannya kepadamu", sebagaimana seorang Bapa akan melakukannya, yaitu dengan memberi jawaban atau mengabulkan doa kita di dalam kasih, di dalam kebijaksanaan, di dalam kesucian, di dalam perkenan-Nya.

Apakah itu berarti bahwa dengan demikian Tuhan Yesus menyalahkan segala doa di tempat umum? Tidak, itu adalah suatu kesimpulan yang salah. Ada dua hal yang perlu dikemukakan bertalian dengan doa di tempat umum. Pertama, bagi orang-orang beriman, tekanan utama haruslah terletak pada doa "di dalam kamarmu", berdoa sendirian, pergaulan perseorangan dengan Tuhan di dalam tempat yang tersembunyi. Barangsiapa hanya berdoa di tempat umum, tetapi tidak pernah berdoa "di dalam kamar" , maka ia tidak mempunyai hubungan yang sungguh-sungguh dengan Allah. Kedua, di dalam berdoa di depan umum, berdoa bersama-sama, dimana kita saling mendoakan hati kita bersama-sama, haruslah doa itu tertuju kepada Allah Sang Bapa yang tersembunyi, dan jangan kepada saudara-saudara, dengan siapa kita berdoa bersama-sama itu.

Kata-kata yang indah yang diucapkan di dalam doa dari mimbar di gereja dapat membuat seorang pendeta menjadi "tersohor" sebagai orang yang mempunyai karunia untuk berdoa, dan dapat menimbulkan kesan pada anggota-anggota jemaat bahwa Tuhan mau mendengarkan doanya dengan kerelaan yang istimewa. Tetapi Tuhan Yesus berkata "Lagi pula dalam doamu itu janganlah bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah seperti mereka. karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya".

Semoga bermanfaat.

 
Tuhan memberkati

Kamis, 04 Desember 2014

Ulangan 30:1


"Maka apabila segala hal ini berlaku atasmu, yakni berkat dan kutuk yang telah Kuperhadapkan kepadamu itu, dan engkau menjadi sadar dalam hatimu di tengah-tengah segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, menghalau engkau, Dan 30:2 dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, Ul 30:3 maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau. Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan engkau.

Ternyata tujuan kutuk adalah supaya manusia/bangsa Israel beserta anak-anaknya mereka sadar dalam hati mereka, berbalik kepada TUHAN, mendengar suara-Nya sesuai dengan perintah-Nya dengan segenap hati dan segenap jiwa, maka TUHAN akan memulihkan keadaan sama seperti sebelum mereka meninggalkan TUHAN dan TUHAN akan menyayangi mereka.
Tetapi jika mereka tidak berbalik dan tetap mengeraskan hatinya dan hidup jauh dari TUHAN maka mereka akan tetap binasa.

Ulangan 28:20 TUHAN akan mendatangkan kutuk, hura-hura dan penghajaran ke antaramu dalam segala usaha yang kaukerjakan, sampai engkau punah dan binasa dengan segera karena jahat perbuatanmu, sebab engkau telah meninggalkan Aku.


Ulangan 11:28 dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal.

KETERBATASAN KITA


Apakah kadang-kadang kita meratapi berbagai keterbatas kita? Kita semua mempunyai kemampuan, tetapi kita kadang juga terhambat oleh ketidak mampuan.

Dari situ, kita bisa saja tergoda untuk menggunakan keterbatasan kita sebagai alasan untuk tidak melakukan beberapa hal, yang sebenarnya bisa kita lakukan jika Allah telah memampukan kita. Jika kita tidak berbakat untuk berbicara di depan umum atau menyanyi di paduan suara, bukan berarti kita boleh berdiam diri saja dan tidak melakukan apa-apa untuk pelayanan.

Saat kita menyadari bahwa kita semua mempunyai keterbatasan, marilah kita berusaha mencari pimpinan Allah untuk dapat menggunakan talenta kita. Kita pasti dapat berdoa. Kita pasti dapat menunjukkan kebaikan kepada orang lain. Kita dapat mengunjungi orang-orang yang kesepian, sakit, dan berusia lanjut. Kita dapat dengan sederhana dan mengenal menceritakan betapa berartinya Yesus bagi hidup kita. Paulus berkata, "Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lain menurut anugerah yang diberikan kepada kita" - Roma 12:6.

TERLALU BANYAK ORANG MELAKUKAN KESALAHAN DENGAN MEMENDAM BERBAGAI TALENTA MEREKA.

Rabu, 03 Desember 2014

(LEBIH DARI SEKEDAR BEKERJA)


Untuk apa kita bekerja?

Apa kita bekerja untuk makan? Atau kita makan untuk bekerja? Semua orang bekerja. Menanggung leleh; menahan jengkel; memeras pikiran; mengucurkan keringat; menghabiskan tenaga; membanting tulang dari pagi sampai sore.

Bayangkanlah paramedis UGD yang seharian berdiri menunduk menjahit robekan tubuh korban yang mengerang kesakitan karena ususnya terburai. Atau bahkan bayangkan pekerjaan seorang ibu rumah tangga, yang tak pernah ada habisnya. Untuk apa mereka bekerja? Untuk apa kita bekerja?

Kita bekerja untuk mendapat nafkah. Sesempit itukah tujuan kerja? Apa hidup ini hanya bertujuan untuk mencari nafkah?

Kita adalah makhluk yang lebih dari sekedar punya mulut dan perut tok. Kita memiliki martabat dan hati nurani. Martabat diri itu tidak akan terwujud dengan hanya ongkang kaki. Karena itu kita bekerja. Dengan bekerja, diri kita diaktualkan. Dengan bekerja, diri kita jadi berarti dan memberi arti.

Punya arti dan memberi arti bisa dilakukan setiap orang, betapa pun kecil pekerjaan. Yang diperbuat seorang penjaga pintu lintasan kereta api bukan sekedar menjaga pintu kereta, tapi menjaga puluhan nyawa manusia. Yang diperbuat ibu bukan sekedar menyiapkan nasi, melainkan menyiapkan masa depan anak-anaknya.

Setiap orang perlu bekerja. Sebab itu, Tiap pagi Tuhan membangunkan surya. Tiap petang Ia menidurkan senja. Ia meniup awan. Ia meneteskan hujan. Ia menghidupkan indung telur. Ia menghembuskan nafas kehidupan ke sebuah janin. Ia mengajar ikan berenang. Ia mengawasi merpati yang terbang kian kemari.

Ketika kita bekerja, Tuhan berada di dekat kita. Sekali-kali Ia menoleh kepada kita. Ia tahu bahwa kita letih. Ia juga letih. ia pun mengangguk kagum melihat kita saat mengerjakan tugas dengan ketekunan.

"Apapun juga yang kau perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan...."

kita bekerja karena hidup ini mempunyai arti. Kita bekerja supaya hidup ini memberi arti. hidup ini CUMA SEKALI. Sekali berarti sesudah itu mati.
Pertanyaannya, apakah hidup kita sekarang ini sudah memiliki arti dan memberi arti?

                              Selamat bekerja, Tuhan memberkati.

Pages - Menu

 
 
Blogger Templates