Pages

Ads 468x60px

Rabu, 12 Agustus 2015

ULAR DAN KATAK


Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus [Galatia 6:2]

Pada saat bencana banjir di Brisbane Queensland Australia akhir tahun 2010 lalu, Armin Gerlach - seorang teknisi kantor berita - berhasil mengabdikan sebuah momen langkah. Yakni rekaman foto tentang persahabatan seekor katak hijau yang mendapat tumpangan di punggung seekor ular coklat yang berenang melintasi genangan air akibat banjir. Bukankah seekor ular biasanya melahap katak yang lemah sebagai mangsanya? Namun, ketika bencana menimpa, dua hewan itu mampu mengesampingkan segala perbedaan di antara keduanya hingga si kuat memberi diri menyelamatkan si lemah.

Sebagai makhluk yang lebih mulia, seharusnya manusia bisa bersikap lebih dari itu. Namun kenyataan, banyak orang hidup dengan memuaskan nafsu dagingnya sampai saling menggigit, menelan, dan membinasakan. Oleh sebab itu, Paulus mengingatkan bahwa kita telah dimerdekakan dari perbudakan dosa oleh penebusan kristus. Maka, jangan sampai kita berbalik lagi ke dalam kehidupan lama. Setiap orang beriman harus menghidupi hakikat hidup barunya, yaitu hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh agar menghasilkan buah Roh. Bagaimana hidup oleh Roh itu diwujudkan dalam relasi antara orang beriman, agar hidup ini menghasilkan buah Roh yang memberkati sesama dan memuliakan Tuhan?

Ingat dan terapkanlah firman ini sebagai petunjuk praktis hidup sehari-hari: bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus". Sebagai orang yang sudah dibebaskan Kristus dari dosa, kiranya hidup kita jauh dari sikap egois, penuh dengki, saling menggigit dan menelan.

TUHAN MENYELAMATKAN KITA DENGAN KASIH YANG TIDAK EGOIS MAKA BETAPA TAK TAHU MALUNYA KITA APABILA HIDUP EGOIS.


Selasa, 11 Agustus 2015

BAPA


....Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" [Roma 8:15]

Bilquis Sheikh menuliskan kisah hidupnya dalam buku / Dared to Call Him Father. "Aku tiba-tiba menyadari bahwa Dia mendengarkanku. sama seperti bapaku di dunia mendengarkanku....Tiba-tiba aku merasa ada orang lain yang hadir di situ. Dia ada di situ. Aku bisa merasa hadirat-Nya....Aku merasa seperti gadis kecil yang duduk dipangkuan Bapanya, "demikian ia menulis. Kenyataan bahwa ia bisa memanggil Allah dengan sebutan Bapa membawa Bilquis merasa kasih-Nya yang luar biasa.

Rasul Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma juga membukakan betapa luar biasanya hal ini. Ia menulis bahwa orang-orang kristiani yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah, dan sebagai anak, kita memanggil-Nya dengan sebutan Bapa. Perhatikanlah berkat Bapa bagi anak-anak-Nya. Pertama kita diberi kemampuan untuk mematikan perbuatan-perbuatan daging. Itu artinya kita diberi kesanggupan untuk menolak dosa, berkata tidak terhadap cobaan. Kedua, kita tidak lagi menerima roh perbudakan yang membuat kita takut. ketiga, kita adalah ahli waris dari janji-janji Allah. Berkat-berkat yang hebat dari Bapa yang hebat!

Seberapa sering kesadaran bahwa kita punya Bapa di surga mewarnai kehidupan kita sehari-hari? Kerap kita mengalah pada dosa, berputar-putar dalam ketakutan dan kekhawatiran hidup di dunia. Kita perlu lebih sering mengingat identitas kita sebagai anak Allah. Dan, biarlah rasa hormat dan sukacita mengalir deras di hati setiap kali secara sadar kita memanggil-nya sebagai Bapa.

MEMANGGIL TUHAN DENGAN SEBUTAN BAPA ADALAH HAK ISTIMEWA ANAK-ANAK-NYA.


[FATHER] 

.... You have received a spirit that makes you a child of God. By that Spirit we cry out: "Abba, Father!" [Romans 8:15] 

Bilquis Sheikh write his life story in a book / Dared to Call Him Father. "I suddenly realized that he was listening to. The same as my father's listening to me .... Suddenly I felt there were other people who were there. He was there. I could feel his presence .... I feel like a little girl sitting lap Father, "he wrote. The fact that he can call God as Father brings Bilquis feel His love is incredible. 

The Apostle Paul, in his letter to the Romans also open how extraordinary it is. He wrote that the Christians were led by the Spirit of God are children of God, and as children, we call Him as Father. Consider thanks to the Father for His children. First we were given the ability to turn off the deeds of the flesh. That means that we are given the ability to resist sin, say no to temptation. Second, we no longer receive the spirit of slavery that makes us afraid. Third, we are heirs of God's promises. Great blessings of the Father which was great! 

How often the awareness that we have a Father in heaven coloring our daily lives? Often we succumb to sin, circling in fear and worries of life in the world. We need more frequent considering our identity as children of God. And, let respect and joy flowing in the heart consciously every time we invoke her as the Father. 

CALLING GOD FATHER WITH NAMES PRIVILEGE IS HIS CHILDREN.

MUJIZAT MASIH TERJADI


Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya kerajaan Allah sudah datang kepadamu [Lukas 11:20]

Mujizat masih terus terjadi hingga saat ini. Namun, dari dulu hingga sekarang, banyak orang yang sulit mempercayai adanya mujizat, dan selalu punya alasan untuk menyangkal. Lihat ketika Yesus mengadakan mujizat: mengusir setan dan menyembuhkan si bisu. Orang Farisi yang tidak mau mengakui keilahian Kristus, berdalih untuk tidak mempercayai-Nya malah mengatakan bahwa Yesus melakukan dengan kuasa penghulu setan. Bagaimana mungkin pimpinan setan mengusir setan yang menjadi anak buahnya? Bukankah seharusnya mereka mengakui bahwa Yesus melakukannya karena kuasa Roh Allah? Bukankah seharusnya mereka mengakui bahwa Kerjaan Allah hadir dalam diri Yesus? dengan tegas Yesus berkata bahwa orang yang tak mempercayai Dia, berarti melawan Dia.

Apakah Anda mempercayai Dia? Dia masih terus mengadakan banyak mujizat setiap hari. bukankah hidup Anda sendiri adalah mujizat Allah? Maukah Anda mengakuinya?

TUHAN MASIH TERUS BERKARYA DENGAN BANYAK CARA HINGGA KINI AGAR MANUSIA DIKUATKAN OLEH KEBESARAN-NYA DI HIDUP INI.


[MIRACLES STILL HAPPEN] 

If I cast out demons by the power of God, then indeed the kingdom of God has come upon you [Luke 11:20] 

Miracles are still happening today. However, from the past until now, many people are hard to believe the existence of miracles, and always have a reason to deny. See when Jesus performed miracles: casting out demons and heal the dumb. The Pharisee who does not want to acknowledge the divinity of Christ, argued not to trust Him even say that Jesus did with the power of the prince of demons. How could leaders exorcise the demons of his men? Should not they acknowledge that Jesus did it by the power of God's Spirit? Should not they acknowledge that the Kingdom of God is present in Jesus? firmly Jesus said that people who do not trust him, then fight him. 

Do you trust him? He continues to perform many miracles every day. not your own life is a miracle of God? Will you admit it? 

GOD STILL CONTINUE TO WORK WITH MANY WAYS TO PRESENT TO HUMAN corroborated by HIS GREATNESS IN THIS LIFE.

KUALITAS KESETIAAN


....Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa...[Keluaran 19:5]

Ada sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa janji adalah utang. Maksudnya, apabila seseorang sudah mengucapkan sebuah janji maka janji itu harus ditepati. Jika tidak, orang itu bisa dianggap "pengobral janji palsu"

Hari ini kita juga belajar tentang janji. Yakni janji antara Tuhan dan umat-Nya. janji ini digagasan oleh Allah dan bersifat mengikat antara Allah dengan umat Israel. Dalam janji ini Allah berinisiatif menjadikan bangsa Israel "harta kesayangan di antara segala bangsa" dan "kerajaan imam dan bangsa yang kudus". Tawaran semacam ini tentu sangat istimewa sebab Tuhan sendirilah yang berjanji. Janji yang disampaikan Allah sudah pasti mengandung "jaminan mutu", tak perlu diragukan lagi. permasalahannya, apakah umat Israel mampu memenuhi syarat untuk hidup sebagai umat perjanjian? Syaratnya satu saja: "sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-ku". Dengan kata lain, umat perjanjian ini mesti berikrar setia dengan segenap hati untuk hidup sebagai umat kepunyaan Allah, yang hanya bersandar pada sabda-Nya!

kita adalah umat Allah. kepada kita, Allah telah memberikan diri-Nya dan juga perjanjian kasih-Nya. sebagai tanggapannya, bagaimana kualitas kesetiaan kita? Bagaimanakah sikap kita jika persoalan dan kesulitan hidup datang? Apakah kita menjadi kecewa dan marah kepada Allah, lalu lari meninggalkan-Nya? Setialah, setialah....walaupun kadang kala hal ini terasa berat untuk dilakukan. Ingatlah, Allah kita yang setia selalu siap mendukung kita "di atas sayap rajawali"-Nya.

ALLAH KITA ADALAH PRIBADI YANG SETIA KIRANYA HIDUP KITA JUGA MENUNJUKKAN SETIA KEPADA-NYA.



[QUALITY LOYALTY] 


.... Iuf you really listen to my word and hold on My covenant, then yo shall be my own special treasure from among all the nations ... [Exodus 19: 5] 

There is an old expression that says that a promise is a debt. That is, if someone has say a promise is a promise that must be kept. If not, that person could be considered "false promise artisan" 

Today we also learned about the appointment. That is a promise between God and His people. This promise in the ideas of God and is binding between God and Israel. In this promise of God took the initiative to make Israel "a treasured possession among all peoples" and "kingdom of priests and a holy nation". Such an offer is certainly very special because God Himself promises. Pledge of God has certainly contain "quality assurance", can not be doubted. the problem is, whether the people of Israel were able to qualify to live a covenant people? The condition of the course: "earnestly listen to my word, and my hold on to the agreement". In other words, these covenant people must pledge faithfully with all your heart to live as people belonging to God, who only rely on his word! 

we are the people of God. to us, God has given Himself and His covenant love. in response, how the quality of our loyalty? How does our attitude if the problems and difficulties of life come from? Do we become disappointed and angry at God, then fled Him? Be faithful, faithful .... although sometimes it was hard to do. Remember, our faithful God is always ready to support us "on the wings of eagles" Him. 

OUR GOD IS FAITHFUL presumably PERSONAL LIFE WE ARE ALSO SHOWS TO HIS FAITHFUL.

Senin, 10 Agustus 2015

SEBELAS SAHABAT KECIL


Maka bersiaplah Yonatan, anak Saul, lalu pergi kepada Daud di koresa. Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah [1 Samuel 23:16]

Saya punya sebelas sahabat kecil dari Lembah Baliem, Wamena, di pegunungan Tengah Papua. Awalnya, seorang guru di sana meminta saya dan beberapa teman menjadi sahabat pena murid-muridnya. Persahabatan lewat surat ini dimaksudkan untuk menolong anak-anak agar suka menulis dan melatih mereka mengekspresikan pikirannya. Mereka bercerita tentang alam Wamena yang indah, guru, teman-teman, keluarga, pelajaran yang tidak disukai, juga cita-cita mereka. Hal yang paling membahagiakan buat saya adalah setiap surat selalu ada tiga kalimat wajib; yaitu "I Love You, kak", "Saya akan selalu mendoakan kakak", dan "Tuhan memberkati kakak".

Persahabatan ini tidak hanya berarti bagi sebelas sahabat kecil saya, tetapi juga buat saya. Kasih mereka yang polos dan doa-doa mereka membuat saya mengucap syukur kepada Allah. ini mengingatkan saya pada persahabatan Daud dan Yonatan. Yonatan mengasihi Daud seperti mengasihi dirinya sendiri. Saat Saul, ayahnya, berencana buruk kepada Daud, Yonatan tetap berbuat baik. Di Koresa, Daud dalam keadaan was-was karena nyawanya terancam. Akan tetapi Yonatan menemani Daud, menunjukkan kepada Daud bahwa Tuhan selalu menyertai , dan yang terpenting, menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah.

Saya tak meminta sahabat-sahabat saya mendoakan saya, tetapi mereka melakukannya dengan dengan tulus. Dan, saya merasa kasih Allah yang luar biasa. Daud juga pasti mengucap syukur kepada Allah atas penguatan Yonatan, atas sahabat seperti dia. Anda pun dapat bersyukur atas kehadiran sahabat Anda, yang dalam susah maupun senang, menguatkan kepercayaan Anda kepada Allah.

SAHABAT SEJATI TIDAK MEMAKSA ANDA MEMPERCAYAINYA TETAPI IA MEMASTIKAN ANDA MEMPERCAYAI ALLAH.



[ELEVEN FRIENDS OF SMALL] 

So be prepared to Jonathan, son of Saul, and went to David at Horesh. It strengthens the belief of David to God [1 Samuel 23:16] 

I had eleven small companions of Baliem Valley, Wamena, in the mountains of central Papua. Initially, a teacher there asked me and some friends became pen pals students. Friendship through this letter is intended to help children to love to write and train them to express his thoughts. They told me about the beautiful natural Wamena, teachers, friends, family, lessons unwelcome, also their ideals. The happiest thing for me is that every letter there are always three sentences mandatory; ie "I Love You, kak", "I will always pray for brother", and "God bless brother". 

This friendship is not only meant for eleven my little friend, but also for me. Love those who are innocent and prayers they make me give thanks to God. This reminds me of the friendship of David and Jonathan. Jonathan loved David like love itself. When Saul, his father, a bad plan to David, Jonathan still doing good. In Horesh, David, in a state of anxiety because his life is threatened. But Jonathan accompany David, showed David that God is always with, and most importantly, strengthen the confidence of David to God. 

I do not ask my friends to pray for me, but they do it with sincerity. And, I feel an incredible love of God. David also certainly thank God for the strengthening of Jonathan, on friends like him. You can be grateful for the presence of your friend, who in difficult and happy, strengthen your trust in God. 

TRUE FRIENDS DO NOT FORCE YOU BELIEVE BUT HE SURE YOU TRUST GOD.

BERISTIRAHAT


....enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat [Keluaran 31:17]

Ada banyak cara orang beristirahat. Ada yang menikmatinya dengan berolahraga atau berjalan-jalan bersama sahabat. Ada yang berekreasi dengan bermain video game atau menikmati makanan enak. Ada juga yang menikmatinya dengan tidur atau sekadar bermalas-malasan di rumah. Saya sendiri menikmati istirahat dengan pergi ke tempat wisata alam.

Apa pun caranya, istirahat adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Namun, ada sebagian orang yang melihat istirahat sebagai suatu yang tidak produktif. Memang pada zaman ini, semua orang dituntut untuk bersaing dan berusaha menjadi yang paling unggul. Seorang pegawai bekerja lembur setiap hari supaya tidak dicap sebagai pegawai yang kalah rajin dibandingkan yang lain. Seorang anak dipaksa memenuhi waktu kosongnya dengan berbagai macam kursus, supaya ia lebih unggul daripada anak-anak yang lain.

Akan tetapi, mari kita mengingatkan bagaimana secara khusus Tuhan menciptakan hari Sabat. Apabila mengikuti pola-Nya ketika menciptakan dunia, sesungguhnya Tuhan sedang mengajar kita untuk bekerja selama enam hari, kemudian beristirahat di hari yang ketujuh. Melaluinya, Tuhan hendak menunjukkan bahwa istirahat bukanlah sesuatu yang tidak produktif. Sebaliknya, inilah kunci keseimbangan hidup - istirahat justru sangat penting untuk menyegarkan kita secara fisik dan rohani.

Maka, ketika kita lelah, jangan ragu untuk beristirahat. Secara teratur, selalu sediakan waktu untuk beristirahat. Setelah istirahat itu dijalani, kita akan dikuatkan dan disegarkan untuk kembali melanjutkan tugas dengan lebih baik.

BERISTIRAHATLAH SETELAH BERKARYA AGAR KITA PUNYA KEKUATAN UNTUK MENGERJAKAN KARYA BERIKUTNYA.


[REST] 

.... Six days the Lord made heaven and earth, and on the seventh day he stopped working for the rest [Exodus 31:17] 

There are many ways the rest. There are enjoying it with exercise or a walk along a friend. There are recreation by playing video games or enjoy good food. There also are enjoyed by sleeping or just lazing at home. I myself enjoy a break by going to the natural attractions. 

Either way, the rest is an integral part of our lives. However, there are some people who saw the break as an unproductive. Indeed, in this day and age, everyone is required to compete and strive to be the most superior. An employee working overtime every day so as not to be branded as an employee who lost diligent than others. A child forced to meet his empty time with a variety of courses, so that it is superior to other children. 

However, let us remind specifically how God created the Sabbath. If follow his pattern when creating the world, the true God is teaching us to work for six days, then rested on the seventh day. Through it, God wanted to show that the break is not something that is not productive. Instead, this is the key to balance life - break it is very important to nourish us physically and spiritually. 

So, when we are tired, do not hesitate to rest. Regularly, always take the time to rest. After the break it followed, we will be strengthened and refreshed to resume tasks better. 

Rest AFTER WORK THAT WE HAVE THE POWER TO DOING THE WORK NEXT.




MEMBERI HINGGA SAKIT


....janda ini memberi dari kekurangannya,bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya [Lukas 21:4]

Ada bermacam suara hati bisa muncul tak kala kita memberi persembahan. "Sudah pantaskah apa yang saya persembahkan ini?" Atau, "Sudah benarkah motivasi saya dalam memberi?" Atau, "Apakah komentar Tuhan atas persembahan saya?" Atau, "Kiranya Tuhan mengampuni saya atas persembahan sejumlah ini."

Ketika Yesus melihat orang-orang memberi persembahan, Dia berkata: Janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang [kaya] itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya". Ternyata yang dinilai banyak, bukanlah jumlahnya. perhatikan bahwa dua uang tembaga di janda adalah miliknya. Jadi, si janda memberi lebih banyak. uang tembaga adalah mata uang terkecil; dan si janda adalah orang tak berpunya. walau sedikit, jumlah itu besar bagi si "kosong".

Sudut pandang Yesus terhadap persembahan kita sudah pasti bukan soal besarnya jumlah, melainkan besarnya kasih yang memampukan kita untuk mau memberi sampai "merasa sakit". Saat kita berani memberi dengan rela sejumlah persembahan yang ketika diberikan terasa "sakit" - sebab itu bagian dari penghidupan kita - maka kita tak perlu ragu. Pemberian yang demikian sangat dihargai Tuhan. seperti Ibu Teresa pernah menulis: "Satu hal yang saya pinta dari Anda, jangan pernah takut untuk memberi. Namun, jangan memberi dari kelebihan Anda. Berikanlah saat hal itu sukar bagi Anda".

TUHAN, AJAR SAYA UNTUK TIDAK SEMBARANGAN MEMBERI TETAPI MEMBERI DENGAN SUNGGUH DARI KASIH SEJATI DI HATI.


[GIVE UP SICK] 

.... This widow gives of its shortcomings, even entire living its [Luke 21: 4] 

There are a variety of conscience can arise not when we give offerings. "It is what I dedicate it appropriate for this?" Or, "It's true that my motivation to give?" Or, "Is God comments on offering me?" Or, "May God forgive me for offering some of this." 

When Jesus saw people give offerings, he said, this poor widow gave more than all the [wealthy] that. Because they all gave gifts of their abundance, but this widow gives of its shortcomings, even its whole living. "It turns out that assessed many, not the number. Notice that two copper coins in widow is his. So, the widow gave more. Money copper currency is the smallest; and the widow is dispossessed people. even a little, it was great for the amount of "empty". 

Jesus' viewpoint towards our offerings is definitely not about the size of the amount, but the amount of love that enables us to want to give up "feel sick". When we dare to give a sacrifice willingly when administered feels "sick" - because it is part of our livelihood - then we do not need to hesitate. Thus greatly appreciated gift of God. like Mother Teresa once wrote: "One thing I begged of you, do not ever be afraid to give. However, do not give of your strengths. Give when it is difficult for you". 

Lord AJAR not arbitrary GIVE ME TO GIVE BUT WITH TRUE LOVE REALLY FROM THE HEART.

Pages - Menu

 
 
Blogger Templates