Pages

Ads 468x60px

Rabu, 15 Juli 2015

MEWARISKAN KERINDUAN


Sesungguhnya seorang anak laki-laki akan lahir bagimu....Ia akan bernama Solomo; sejahtera dan santosa akan Kuberikan atas Israel pada zamannya [1 Tawarikh 22:9]

Karena tidak memenuhi syarat untuk membangun Bait Suci, ia mewariskan kerinduan dan tugas mulia itu kepada anaknya, Salomo. Meski tugas sudah diwariskan, Daud tidak tinggal diam. Ia ikut mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pembangunan. Meskipun Salomo yang mendapat pujian. Daud tak peduli. Baginya, mendapat nama bukanlah tujuannya. Daud rela menjadi orang yang bekerja di belakang layar.

Apakah Anda senang "bekerja di belakang layar"? Mungkin hanya sedikit orang yang tahu kiprah Anda. Mungkin pekerjaan Anda terlihat bernilai kecil. Namun sangat mungkin, pekerjaan Anda yang di balik layar justru mempersiapkan sebuah pekerjaan yang berdampak besar di kemudian hari. Meski tak terlihat, sangat penting pekerjaan di balik layar melaksanakan bagiannya dengan sungguh-sungguh. Walau tak menerima penghargaan langsung, tetapi pekerjaan itu tidak akan terlaksana tanpa campur tangan pekerja di balik layar. Sebab itu, mari lakukan sungguh-sungguh setiap kepercayaan yang kita emban, dengan hati mengasihi Dia.

JIKA PEKERJAAN DI BALIK LAYAR MELAKUKAN PERAN TERBAIKNYA MAKA SEBUAH KARYA AKAN MENCAPAI PRESTASINYA.


[Bequeath LONGING] 

Surely a boy will be born to you .... He will be named Solomon; prosperous and santosa will give over Israel in his day [1 Chronicles 22: 9] 

Because it does not qualify to build the temple, he bequeathed the longing and noble task to his son, Solomon. Although the task has been handed down, David did not stay silent. He participated prepare everything needed for development. Although Solomon is to be commended. David did not care. For him, got the name is not the point. David volunteered to be the people who work behind the scenes.Are you happy "working behind the scenes"? Perhaps only a few people who know your gait. Your job may look small value.  

However it is possible, your work behind the scenes preparing for a job actually have a major impact in the future. Although invisible, very important work behind the scenes to implement its part in earnest. Although not receive direct awards, but the job will not be accomplished without the intervention of the workers behind the scenes. Therefore, let's do it heartily every confidence that we share, with a heart to love Him. 

IF WORK BEHIND THE SCENES best THEN DO THE ROLE OF A WORK WILL ACHIEVE achievement.


KEBABLASAN


....di manakah Allah yang menghukum? [Maleakhi 2:17]

Cara seorang anak merespons kasih sayang orang tuanya biasa beragam. Bisa dengan penghormatan dan kepatuhan, bisa juga sebaliknya. Seorang anak dapat terus berbuat sesuka hati, melanggar semua aturan yang diberikan, bahkan secara sadar mengulang-ulang hal tersebut. Anak itu bertingkah "kebablasan" atau kelewatan. Ia berpikir" "Orangtuaku sangat sayang kepadaku. Mereka tidak akan marah pada apa pun yang kulakukan karena aku ini kesayangan mereka".

Kalimat pernyataan Tuhan yang pertama dalam kitab Maleakhi adalah: "Aku mengasihi kamu" [1:2]. Namun, setelah itu terungkap keluhan atas berbagai tingkah umat yang kebablasan. Kasih sayang Tuhan disalahartikan, bahkan dijadikan pembenaran atas berbagai perbuatan yang sesungguhnya mengecewakan hati Tuhan. Umat Israel tidak menyadari betapa mereka menyusahkan hati Tuhan dengan semua perilaku itu.

Kita pun sebagai orang-orang yang dikasihi Tuhan, sering kebablasan. Mengetahui bahwa Tuhan mengasihi kita, tidak membuat kita bersyukur dan berusaha hidup benar meneladani kasih-Nya. Kita terus melakukan kesalahan dan menganggapnya biasa karena berpikir hal itu tidak mengurangi kasih Tuhan kepada kita. Bacaan hari ini mengingatkan bahwa kita keliru menganggap Tuhan berkenan pada perbuatan yang tidak baik. Kalaupun Dia tidak menjatuhkan hukuman, bukan berarti kejahatan kita dibenarkan oleh-Nya. Seperti orangtua yang bisa menegur dan menghukum anaknya agar tidak kebablasan, Tuhan pun dapat mengajar kita - walau untuk itu Dia sangat bersusah hati. Karenanya, maukah kita tidak lagi kebablasan dan menyalahartikan kasih sayang Tuhan?

KASIH TUHAN ITU MEMBEBASKAN TETAPI TIDAK KEBABLASKAN.


[Excessive] 

.... Where is God punish? [Malachi 2:17] 

The way a child is affectionate parents responded wonderfully diverse. Able to respect and compliance, could also vice versa. A child can continue to do what you like, break all the rules are given, even consciously repeat it. The child was acting "too far" or missing. He thinks "" My parents are very dear to me. They will not be angry at anything that I do because I am their favorite ". 

The first sentence of the Lord statements in the book of Malachi is: "I love you" [1: 2]. However, after it was revealed complaints of various people that excessive behavior. God's love misinterpreted, even used as a justification for the various actions that actually let the heart of God. Israel's people do not realize how they troubled the heart of God with all of that behavior. 

We, too, as people who loved God, often excessive. Knowing that God loves us, not make us grateful and try to live completely imitate his love. We continue to make mistakes and considered unusual because it thinks it does not diminish God's love for us. Reading today reminds us that we mistakenly think that God delights in bad deeds. Even if he does not impose penalties, does not mean that the crimes we are justified by him. Such as parents who could rebuke and punish their children so as not excessive, even God can teach us - although for that he was very upset. Therefore, do we no longer excessive and misinterpret God's love?

Senin, 13 Juli 2015

GIZI BAGI JIWA


Berkatalah Israel kepada Yusuf: "Sekarang bolehkah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup" [Kejadian 46:30]
 

Harold Kushner, seorang rabi dan penulis termasyhur, pernah mengemukakan bahwa pada usia di atas lima puluh, biasanya manusia mempunyai satu kerinduan khusus, yakni kerinduan akan makna. Ia pun menanyai dirinya sendiri, "Apa artinya dari semua yang kumiliki, apa arti hidupku?" Ia ingin mendapatkan arti hidup. Demikian pula kurang lebih perasaan Yakub dalam kisah yang kita baca hari ini.

Yakub telah begitu lama terpisah dengan Yusuf, anak kesayangannya. Bayangkan 22 tahun! Dan, selama itu pula ia seolah-olah kehilangan makna hidup. Saat berjumpa lagi, pertemuan mereka begitu mengharukan! Yusuf memeluk leher ayahnya dan lama menangis di bahunya. Pertemuan itu menghadirkan keharuan memuncak, juga kelegaan yang mendalam bagi Yakub. Katanya, "Sekarang, bolehkah aku mati setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup...." . Kembali melihat Yusuf adalah hal yang menyempurnakan dan "memberi gizi" bagi jiwa Yakub pada masa tuanya.

Ada kalanya hidup seseorang begitu "pahit" sehingga ia melihat segala sesuatu dengan muram dan suram. Kehilangan, kerinduan akan sesuatu, harapan yang belum tercapai, masa lalu yang pedih, bisa menjadi musababnya. Dalam relasi dengan sesama, apakah kehadiran kita memberikan "nutrisi" atau "gizi" pada jiwa orang lain, sehingga hidup mereka kembali bermakna? Kita bisa memulainya, setidaknya dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Hadirkanlah diri disitu, Berikan perhatian dan kasih yang nyata. Kita dapat menjadi penguat bagi mereka, agar tegar menghadapi serta mengelolah segala kepahitan hidup yang mungkin menghampiri.

JADILAH PRIBADI YANG SELALU SIAP MEMBERI MAKNA KHUSUSNYA AGAR ORANG LAIN MERASAKAN HIDUPNYA BERHARGA - RENUNGKAN BAIK-BAIK!

[NUTRITION FOR LIFE] 

Israel said to Joseph: "Now may I die, after I see your face and know that you are still alive" [Genesis 46:30] 

Harold Kushner, a rabbi and a famous writer, had argued that the age of fifty, humans usually have a specific desire, the longing for meaning. He also asked himself, "What is the meaning of all that I have, what is the meaning of my life?" He wanted to get a sense of life. Similarly, less feelings of Jacob in the story that we read today. 
Jacob had been so long separated by Joseph, his favorite child.  
Imagine 22 years! And, during which he seemed to lose the meaning of life. When the meet again, their meeting was so touching! Joseph hugged his father's neck and a long cry on his shoulder. The meeting brings heightened emotion, too deep relief for Jacob. He said, "Now, may I die as I see your face and know that you are still alive ....". Back see Joseph is the perfect and "nourish" the soul of Jacob in his old age. 
There are times when one's life is so "bitter" that he sees everything with a grim and gloomy. Loss, longing for something, expectations have not been achieved, painful past, could be his enemy. In relationships with others, whether our presence provides "nutrients" or "nutrition" on the life of another person, so that they return a meaningful life? We can start, at least from the smallest, namely the family.  

Present-lah himself there, Give attention and real love. We can be a booster for them, so tough to face and manage all the bitterness of life that may be approached. 

ALWAYS BE READY TO GIVE PERSONAL MEANING IN PARTICULAR TO OTHERS FEEL VALUABLE LIFE - CONSIDER CLOSELY!

REST IN PEACE


Mengapa engkau mengganggu aku dengan memanggil aku muncul? [1 Samuel 28:15]

Rest In Peace [Beristirahat dalam damai] seoleh-olah tak berlaku di Haiti. Gempa berkekuatan 7 SR memporak-porandakan negeri itu. Namun di Leogane, kota yang terdekat dengan episentrum gempa, kompleks pemakaman umum masih berantakan dan tak terurus. Batu-batu nisan bergeser dan rusak, liang lahat dan peti jenazah menganga, tulang-tulang dan kain pembungkus mayat berserakan. "Saya tidak bahagia, yang sudah meninggal pun tak bahagia," tutur Pierre, warga setempat yang sedang memperbaiki makam ayahnya.

Namun, yang mengusik orang mati tidak hanya gempa, tetapi juga manusia yang masih hidup. Waktu itu Saul kebingungan karena terjepit dalam perang melawan Filistin. Ia sadar Allah sudah undur darinya dan tak mau menjawabnya lagi. Bukan Allah meninggalkan Saul, tetapi Saul yang meninggalkan Allah dan mengikuti maunya sendiri [ayat 18]. Fatalnya, Saul mendatangi para pemanggil arwah dan roh peramal [ayat 3], yang menajiskan dan dibenci Tuhan [Ulangan 18:10-12]. Saul meminta mereka memanggil roh Samuel yang sudah mati, sebab ia hendak meminta petunjuk [ayat 8-15]. Benarkah roh Samuel yang muncul? Entahlah, sebab iblis pun mampu menyamar sebagai malaikat [2 Korintus 11:14]. Yang jelas, Saul terkutuk karena ini.

Ada sebagian orang yang mengaku diri anak Tuhan, rajin ke gereja, tetapi masih percaya ramalan, hari baik, atau minta petunjuk "orang pintar" ketika hendak punya acara. Lebih konyol lagi, ada yang meminta rezeki di kuburan nenek moyang. Jika tak segera bertobat, mereka bisa seperti Saul; semula dipilih Allah menjadi raja Israel, tetapi kemudian ditolak Tuhan dan binasa.

SEHEBAT APA PUN MANUSIA, SUATU HARI IA AKAN MATI
MAKA ANDALKAN SAJA TUHAN, YANG TAK PERNAH MATI.


[REST IN PEACE] 

Why have you disturbed me by bringing me up? [1 Samuel 28:15] 

Rest In Peace [Rest in peace] seoleh if not apply in Haiti. An earthquake measuring magnitude 7 devastated the country. But in Leogane, the town closest to the epicenter, the public cemetery is still messy and unkempt. Headstones shifted and broken, grave and coffin gaping, bones and cloth wrappers strewn corpses. "I'm not happy, who had died was not happy," said Pierre, a local resident who was repairing his father's grave. 

However, what bothers the dead not only earthquakes, but also people who are still alive. At that time, Saul confusion because wedged in the war against the Philistines. He realized God had turned away from him and did not want to answer it again. Not God left Saul, but Saul left God and wants to follow his own [paragraph 18]. Fatal, Saul came to the caller spirits and spirit forecasters [paragraph 3], which defile and hated by God [Deuteronomy 18: 10-12]. Saul asked them to summon the spirit of Samuel is dead, because he wanted to ask for directions [verses 8-15]. True spirit of Samuel that appeared? I do not know, because the devil has been able to masquerade as an angel [2 Corinthians 11:14]. What is clear, Saul cursed because of this. 

There are some people who claim to be children of God, went to church, but still believe the forecast, a good day, or to seek "smart people" when they wanted to have the event. More ridiculous, no one asked sustenance at ancestral graves. If not immediately repent, they can be like Saul; originally chosen by God to be king of Israel, but then rejected God and perish. 

No matter how MAN, ONE DAY HE WILL DIETHEREFORE RELY ON GOD ALONE, THAT NEVER DIE.

Jumat, 10 Juli 2015

MENGEJAR EKOR


Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian...juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan...[1 raja-raja 3:12-13]

Seekor kucing keasyikan mengejar ekornya sendiri. Berputar-putar, dan berputar-putar lagi, berharap segera mendapati ekornya tertangkap. Ia pikir, ketika ia sudah mendapatkan ekornya, ia akan bahagia. Ia tidak akan khawatir kehilangan ekor, karena ia telah memegang ekornya. Padahal itu salah sama sekali! Berputar sampai pingsan pun ia takkan dapat menangkap ekornya. Ia hanya akan kelelahan. Dan sesungguhnya, bukankah tanpa dikejar pun, ekor itu selalu setia mengikutinya?

Sadar atau tidak, kerap kali orang memakai waktu hidupnya untuk banyak mengejar kesuksesan, kekayaan, pengakuan, dan sebagainya, agar hidupnya bahagia. Segala upaya, waktu, dan energi, dicurahkannya untuk mengejar hal-hal itu. Padahal, itu sebenarnya adalah target hidup yang salah! Segala target yang tidak bernilai kekal, tidak layak kita kejar sedemikian rupa. Kita malah kehilangan target yang utama, yang Tuhan ingin agar kita raih dan miliki, supaya hidup kita berarti.

Mari simak lagi, bagaimana Tuhan berkenan pada permintaan Salomo. Yakni, ketika Salomo meminta hikmat sebagai hal terpenting yang ia rindukan, bukan yang lain-lain. Dan, ketika target utama itu telah ia sasar, Tuhan ternyata menambah hal-hal lain yang Salomo perlukan, meski Salomo tidak memintanya. Tanpa perlu dikejar, Tuhan memberikanya kekayaan, kemuliaan, umur panjang. Itu semua bonus! Sebab itu, kita diajar untuk tidak mengejar bonus, tetapi target utama: hikmat. Yakni, hati yang berpadanan dengan hati Tuhan. Mata yang melihat seperti mata Tuhan. Hidup yang berjalan sebagaimana Tuhan berjalan. Mari kenali pribadi Tuhan lebih intim. Dan, milikilah hikmat dari-Nya.

HIDUP KITA DI DUNIA INI TERBATAS ADANYA, MAKA TENTUKAN TARGET YANG BENAR DAN KEKAL NILAINYA.


[CHASING TAIL] 

I give you a heart full of wisdom and understanding ... do not you ask also what I give unto you, both riches and glory ... [1 kings 3: 12-13] 

A cat chasing its own tail preoccupation. Circling, and circling again, hoping soon to tail caught. He thought, when he was getting his tail, he'll be happy. He will not worry about losing a tail, because he has held his tail. In fact it is completely wrong! Spin up unconscious was he would not be able to catch its tail. He just gets exhausted. And indeed, not without any pursued, the tail was always faithful to follow?Conscious or not, often times the wear life for many pursuit of success, wealth, recognition, and so forth, so that his life happy. All the effort, time, and energy, pour out to pursue these things. In fact, it actually was the target of the wrong life! All the targets were not worth the eternal, not worth we pursue such a way. We even lost the primary target, the Lord wants us to achieve and have, so that our lives mean.Let's look again, how God is pleased at the request of Solomon.  

Namely, when Solomon asked for wisdom as the most important thing that he missed, not the others. And, when it was the main target of his wandering, God turns out adding other things that Solomon needed, although Solomon did not ask for it. Without the need to be pursued, the Lord gave it wealth, glory, longevity. It was all a bonus! Therefore, we are taught not to chase the bonus, but the main target: wisdom.  

Namely, heart corresponds to the heart of God. Eyes that look like the eyes of God. Life is running as the Lord walked. Let's identify the personal God is more intimate. And, have wisdom from Him. 

OUR LIFE IN THIS WORLD IS LIMITED, THEN DECIDE TARGET THE RIGHT AND THE ETERNAL VALUE.

TAKKAN MENYERAH


...mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring [Markus 2:4]

Iman dan usaha untuk berbuat sesuatu adalah ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang tak terpisahkan. Tanpa ada perbuatan yang dilakukan, diragukan bahwa di situ ada iman Yakobus 2:14-18. Bukankah perbuatan kita merupakan penampakan dari apa yang kita imani?

Sekumpulan orang yang beriman kepada Yesus menyaksikan bagaimana Yesus mengajar dengan kuasa dan mujizat, serta menyembuhkan orang sakit Markus 1:21-28. Dari situ, hati mereka tergerak untuk menolong teman sekampung mereka yang sejak kecil lumpuh dan tersisih hidupnya. Mereka beriman Yesus mampu menyembuhkan maka mereka tidak diam saja. Meski banyak rintangan: mungkin rumah si lumpuh jauh, mungkin tubuhnya berat. Ditambah lagi, ketika sampai di tempat Yesus, ternyata rumah itu penuh sesak dan orang-orang tak mau memberi jalan. Namun, sekali lagi iman itu mereka wujudkan dengan usaha yang pantang menyerah. Mereka membuka atap rumah, dengan resiko si empunya rumah marah. Iman yang besar kepada Yesus memampukan mereka mengatasi segala hambatan. Ketika si lumpuh diturunkan, Yesus melihat iman mereka yang mau berusaha itu dan memberi kesembuhan. Iman itu menjadi kenyataan karena anugerah Allah di dalam Kristus, bukan karena kemampuan mereka sendiri.

Apabila kita sedang menghadapi sebuah tugas atau tantangan hidup yang butuh iman dan perjuangan keras, ingatlah kisah ini. Teguhkan iman dengan memandang kebesaran Allah yang sanggup menolong hingga menguatkan kita untuk berjuang pantang mundur. Serahkan ketidakberdayaan kita ke alamat yang tepat, yakni Yesus yang mampu membuat iman kita menjadi kenyataan.

IMAN MENGARAHKAN MATA KITA KEPADA YESUS YANG HEBAT AGAR DENGAN IMAN ITU KITA MEMBERI USAHA TERBAIK KITA.


[WOULDN SURRENDER] 

... They opened the roof above Jesus; open after they lowered the mat on which the paralytic was lying [Mark 2: 4] 

Faith and attempt to do something is like two sides of a coin are inseparable. Without any action committed, it is doubtful that there is no faith James 2: 14-18. Are not our actions is the appearance of what we believe? 

A group of people who believe in Jesus watched how Jesus taught with power and miracles, and healing the sick Mark 1: 21-28. From there, their hearts were moved to help their compatriots who since childhood paralysis and marginalized life. They believed Jesus was able to heal so they do not say anything. Despite many obstacles: the home of the paralyzed much as possible, maybe his body weight. Plus, when Jesus came to the place, it turned out the house was packed and people do not want to give way. However, once again the faith that they embodied the unyielding efforts. They opened the roof of the house, with the risk of the owner of the house angry. Great faith in Jesus enabled them to overcome all obstacles. When the paralytic lowered, Jesus saw their faith who want to try it and give healing. Faith became a reality because of the grace of God in Christ, not because of their own abilities. 

When we are facing a task or challenge life takes faith and hard struggle, remember this story. Affirm faith with regard to the greatness of God could help to strengthen us to fight undeterred. Our powerlessness submit to the appropriate address, which is Jesus who is able to make our faith a reality. 

FAITH STEER OUR EYES TO JESUS ​​THE GREAT ORDER BY FAITH THAT WE GIVE OUR BEST BUSINESS.

SETENGAH KETAATAN


....Aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek sendiri telah kutumpas [1 Samuel 15:20]

Apa akibatnya jika kita tidak melakukan perintah Tuhan dengan segenap hati? Tentu, apa yang kita lakukan menjadi tidak berkenan di hadapan-Nya. Suatu ketika, Saul menerima perintah Tuhan untuk menyerang Amalek dan membinasakan mereka tanpa terkecuali. Saul pun membunuh semua orang Amalek . Hanya ia menyisakan satu orang, yaitu raja Agag ayat 8. Pula, ia membiarkan rakyat "menyelamatkan" kambing domba serta lembu yang terbaik-dengan alasan hendak dipersembahkan kepada Tuhan. Apa akibat dari ketaatan Saul yang setengah-setengah ini? Tuhan menolak Saul menjadi raja dan memberi jabatan itu kepada orang lain. Tidak adilkah Tuhan? bukankah satu orang saja yang dibiarkan hidup? Apakah artinya sebuah "dosa kecil" dibandingkan hal spektakuler yang sudah Saul lakukan untuk membinasakan bangsa Amalek?

Justru di sinilah masalahnya! Ketaatan yang setengah-setengah tak akan pernah berkenan di hadapan Tuhan-sebab itu sama dengan ketidaktaatan. Jangan berpikir Tuhan terpesona pada keperkasaan Saul yang telah membinasakan ribuan orang Amalek. Tuhan tidak kenal istilah kompromi. Tuhan menginginkan ketaatan yang total.

Apakah Tuhan berkenan dengan persembahan kita yang sangat banyak, pelayanan kita yang spektakuler dan penuh mujizat, sementara kita masih menyimpan dosa di hati? Keliru besar kalau kita berpikir bahwa Tuhan akan mengangguk-angguk senang atas jerih lelah kita dalam pelayanan. Taatlah secara total dan tinggalkan dosa sekarang juga.

MENAATI TUHAN DENGAN SETENGAH HATI SAMA ARTINYA DENGAN TIDAK MENAATI - RENUNGKAN!


[Half COMPLIANCE] 

.... I brought Agag, the Amalekite king, but the Amalekites itself has kutumpas [1 Samuel 15:20] 

What are the consequences if we do not obey God with all your heart? Of course, what we do be pleasing in His sight. Once, Saul received the Lord's command to attack the Amalekites and destroy them without exception. Saul to kill all the Amalekites. He only leaves one person, namely the king Agag paragraph 8. Pula, he let the people to "save" the sheep and oxen best-the pretext offered to God. What is the result of obedience Saul's half-baked? God rejected Saul as king and gave the job to someone else. Is not it fair of God? not one person left alive? Whether it means a "small sin" than the spectacular things that have been done to Saul to destroy the Amalekites? 

It is here the problem! Obedience half will never please God-because it's the same with disobedience. Do not think God fascinated by the courage of Saul who has destroyed thousands of Amalek. God does not know the term compromise. God wants total obedience. 

Is God pleased with our offering very much, our service was spectacular and miraculous, while we still had sin in my heart? A big mistake if we think that God would nod happy for our labors in the ministry. Obey in total and leave sin now. 

RESPECT FOR GOD WITH HALF HEART IS NOT BOUND BY THE SAME MEANING - REFLECT!

Pages - Menu

 
 
Blogger Templates