"Firman Tuhan kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?
Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik ?"
Kita bisa
melihat kisah klasik antara Kain dan Habel pada suatu hari mereka berdua
mempersembahkan korban persembahan kepada Tuhan. Dalam kejadian 4:4
dikatakan bahwa Tuhan berkenan [had respect and regard] pada Habel atas
persembahannya. Sebaliknya korban
persembahan kain ternyata ditolak, lalu inilah yang terjadi. "Lalu hati
Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram."[Ay 5b] ketika hatinya
panas, air mukapun berubah menjadi muram. kita bisa melihat
kelanjutannya bahwa Tuhan menyatakan ketidak suka-Nya. Kepada raut muka
seperti ini.
"Firman Tuhan kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?" [Ay6-7a].
Tuhan mengingatkan satu hal, yaitu bahwa raut wajah yang muram akan timbul ketika tidak ada sukacita dalam diri kita, ketika tidak ada kasih Tuhan berkuasa atas kita dan itu akan tergambar lewat berbagai perbuatan baik sebagai cerminan kasih Tuhan yang berkerja dalam diri kita.
"Firman Tuhan kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?" [Ay6-7a].
Tuhan mengingatkan satu hal, yaitu bahwa raut wajah yang muram akan timbul ketika tidak ada sukacita dalam diri kita, ketika tidak ada kasih Tuhan berkuasa atas kita dan itu akan tergambar lewat berbagai perbuatan baik sebagai cerminan kasih Tuhan yang berkerja dalam diri kita.
Tuhan memberkati


