Perdebatan Ayub dengan keempat temannya sudah mendekti babak akhir. Dari pasal 4-31 Ayub mencoba untuk membela diri karena dipersalahkan oleh ketiga temannya; Elifas, Bildad dan Zofar. Mulai pasal 32, Elihu yang selama ini diam, mulai ikut bicara dan memberikan penilaian. Dialog Ayub dengan keempat temannya ini adalah dialog antara pemikiran manusia yang sama-sama terbatas, baik ketika masing-masing mereka sedang berbicara tentang Allah ataupun tentang kebenaran. Tidak semua yang mereka kemukakan adalah kebenaran, tetapi sebagian yang mereka katakan memang adalah kebenaran, khususnya yang berkaitan dengan kebenaran umum. Perkataan Elihu bahwa Allah tidak berbuat curang dalam Ayub 34:10, 12 adalah benar adanya. Sekalipun Ayub merasa dirinya tidak melakukan dosa yang sepadan sampai dia harus mengalami penderitaan seberat itu, dan di dalam kondisi kekecewaannya Ayub sampai mempertanyakan Allah atas tindakan-Nya memperlakukan dia seperti itu--,tapi merupakan suatu kebenaran bahwa Allah tidak berbuat curang. Sekalipun seorang beriman dan hidup saleh, mengalami kondisi kehidupan yang buruk bahkan dalam penderitaan sampai batas ekstrim seperti yang dialami Ayub, hal itu tetap tidak menjadikan Allah di pihak yang curang, apalagi bersalah.
"Curang" adalah perbuatan manusia yang muncul dari hati dan pikiran yang sudah cemar dosa. Perbuatan curang adalah yang tidak pantas, tidak lurus, tidak jujur, yang tidak memperlakukan orang secara seharusnya, secara adil. Perbuatan curang muncul dari hati yang licik dan unsur-unsur negatif lainnya. Pertanyaan Ayub atas pengalaman hidupnya yang dramatis itu belum terjawab, dan mungkin tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan baginya, namun itu tidak menyebabkan Allah bersalah, tidak adil, apalagi berbuat curang. Sebaik atau seburuk apapun pengalaman hidup manusia, tak dapat mengubah sifat dan hakekat Allah. Dia tetap adalah Allah yang benar, yang adil, dan yang berdaulat. Tidak ada kecurangan apapun pada diri-Nya.
- Apakah Allah dapat dikatakan "curang" ketika kita yang merasa diri benar di hadapan-Nya harus mengalami kesulitan dalam hidup ini?


