Betapa kita sering seperti itu. Kita sudah tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam permasalahan kita, namun kita sengaja tidak melakukannya dan mengeluarkan alasan rohani "Ya nih, masih bergumul panjang dengan Tuhan, Entah kapan Dia menjawab". Ada banyak hal dalam kehidupan kita yang tidak membutuhkan doa lagi, karena Alkitab sudah mengatakan kehendak Allah dalam hal-hal tersebut, yang kita butuhkan adalah bertindak ! Itulah artinya 'melangkah dengan iman' [perlu iman karena kita belajar percaya 100% terhadap apa yang Allah sudah nyatakan dalam firman-Nya]. Celakanya kita sering memilih melangkah dengan hikmat diri', Mari kita coba simak beberapa contoh apakah selama ini ' melangkah dengan iman 'atau' melangkah dengan hikmat diri',
[a] Bergumulan tentang relasi dengan seorang cewek yang
belum percaya untuk menjadi pacar. Lalu si pemuda
berdoa keras "Tuhan, nyatakan kehendak-Mu dengan
tanda-tanda khusus" sambil telpon dan PDKT setiap hari.
[b] Bergumulan tentang ambil pelayanan di gereja atau lebih
fokus pada kerjaan part-time atau studi atau profesi atau
bisnis. Doa kita "Tuhan, nanti yah kalau saya sudah jadi
orang, sudah lebih mantap dalam karir, baru saya akan
pelayanan. Memang pelayanan seharusnya menjadi gaya
hidup orang Kisten, tapi gimana yah, Tuhan bisa
maklumkan ?"
[c] Ketika cekcok dengan suami-istri, suami datang kepada
Tuhan "Istriku memang keterlaluan, Tuhan. Masa saya
harus lagi-lagi mencoba mengerti, mengalah, dan
mengampuni dia, setelah sekian lama saya sabar, sabar dan
sabar?"
[d] Ketika ada kesempatan untuk berkontribusi untuk
pekerjaan misi dengan persembahan uang, kita berminggu-
minggu bergumulan "Ya Tuhan, kami tidak kaya kayak
yang lain, masak sih harus memberi lagi, menggerakkan
hati orang lain"
[e] Dan seterusnya. . . . Dalam banyak area hidup kita, kita
memilih untuk menjadi 'bijaksana' ketimbang melangkah
dengan iman. Bahkan kita bukan saja bijaksana, tapi
bijaksini dan bijaksitu. Menimbang-nimbang keputusan
kita 1000 kali dalam doa sampai akhirnya tidak jadi
bertindak. Itu sebab mengamsalkan menulis "Percayalah
kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah
bersandar pada pengertianmu sendiri" [Amsal 3:5-6] Kita
tidak diminta untuk membuang pengertian kita karena
itupun dari Tuhan, tapi yang diminta adalah jangan
andalkan pengertian kita.
Adakah sesuatu yang kita tahu kita seharusnya lakukan, tetapi kita sengaja ulur waktu justru melalui doa atau aktivitas rohani lainnya?
Dalam hal apakah teguran Tuhan kepada Musa berlaku kepada anda dan saya: "Ini bukan waktunya doa, tapi waktunya bertindak !"
Tuhan memberkati


